Out of the Box Thinking dan Pembangunan Berkelanjutan
Dilihat dari Segi Wilayah Indonesia
oleh Siti Awaliyati Deliabilda
Keberadaan jumlah energi di dunia semakin berkurang karena sumber energi yang digunakan masih mengandalkan pada energi fosil. Termasuk di Indonesia. Padahal Indonesia merupakan salah satu negara terbesar yang memberikan pasokan energi di dunia.
Peranan energi sangat besar bagi pembangunan karena memudahkan manusia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Sayangnya, semakin kita dimudahkan, semakin tinggi konsumsi terhadap energi. Berdasarkan pemaparan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi dalam diskusi di Pusat Penelitian Ekonomi-LIPI pada tahun 2004, dinyatakan bahwa pada tahun 1970, konsumsi energi primer hanya sebesar 50 juta SBM (Setara Barel Minyak). Tiga puluh satu tahun kemudian, tepatnya tahun 2001 konsumsi energi primer telah menjadi 715 juta SBM atau mengalami pertumbuhan yang luar biasa yaitu sebesar 1330% atau pertumbuhan rata-rata periode 1970-2001 sebesar 42.9%/tahun.Sumber energi yang masih menjadi ‘primadona’ saat ini adalah bahan bakar minyak. Padahal sejak tahun 1992 kita sudah mengimpor dari luar negeri demi terpenuhinya konsumsi energi.
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan, dunia mulai mengembangan pemanfaatan sumber energi selain bahan bakar minyak. Di Indonesia sendiri sangat banyak sumber energi yang masih dapat dimaksimalkan pemanfaatannya. Tenaga air, panas bumi, biomasa dan sampah/limbah, bahan bakar nabati, tenaga surya,energi laut, tenaga angin, nuklir, dan hidrogen-fuel celladalah beberapa di antaranya. Dalam pengembangannya, ada baiknya divariasikan berdasarkan kondisi suatu wilayah mengingat Indonesia terdiri dari beribu pulau dengan potensi alam yang berbeda. Selain kondisi wilayah, perlu juga diperhatikan tingkat konsumsi, kawasan industri, komunitas khusus yang mengkonsumsi BBM dalam skala besar seperti nelayan, biaya distribusi, serta potensi produksi BBM dalam negeri, sehingga potensi pengembangan energi terbarukan bisa lebih maksimal.
Berdasarkan potensi di wilayahnya, sumber energi alternatif yang dapat dikembangkan di Indonesia dibagi menjadi dua kategori, yaitu berpotensi di semua wilayah dan yang berpotensi di wilayah-wilayah tertentu. Sumber yang dapat dikembangkan di semua wilayah di Indonesia adalah tenaga air, biomassa dan sampah/limbah, bahan bakar nabati, dan tenaga surya. Sedangkan sumber energi lain lebih berpotensi untuk dikembangkan di wilayah tertentu.
Tenaga air merupakan salah satu pemanfaatan sumber energi yang sudah mulai dikembangkan di Indonesia melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Keunggulan dari energi ini adalah memberikan respon yang cepat sehingga memudahkan saat berada dalam kondisi beban puncak maupun terjadi gangguan jaringan. Selain itu, kapasitas daya keluarannya lebih besar dibanding energi terbarukan lain. Jumlah daya listrik yang dapat dibangkitkan pada suatu pusat pembangkit listrik tenaga air tergantung pada ketinggian saat air jatuh dan kecepatan aliran airnya.
Banyaknya jenis tanaman adalah anugerah yang dimiliki Indonesia. Sebagai negara kedua di dunia yang memiliki banyak jenis tanaman, Indonesia sangat berpotensi untuk mengelola dan mengolah bahan baku minyak nabati. Ubi kayu, tebu, jarak pagar, kelapa sawit, dan kelapa adalah sebagian kecil jenis tumbuhan penghasil energi yang dapat tumbuh dengan baik di Tanah Air. Meski kini sudah banyak lahan yang telah menjadi bangunan, masih cukup waktu untuk memperbaiki hutan dan perkebunan serta menahan manusia yang kerapkali mengorbankan flora demi finansial semata.
Selain nabati, banyak bahan biologis yang terdapat di alam ini yang bisa dimanfaatkan secara praktis untuk bahan bakar atau bisa juga diolah terlebih dulu untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Biomassa juga memiliki keunggulan, di antaranya mengurangi adanya gas rumah kaca, mengurangi limbah organik, melindungi kebersihan air dan tanah, mengurangi polusi udara, serta mengurangi hujan asam dan kabut asap.
Suatu ketika, Presiden RI, Susilo Bambang Yodhoyono berkata, selama matahari masih ada, selama itu pula kita akan merasakan panasnya, dan panas itu adalah suatu sumber energi. Keberadaan matahari menjadi bagian penting di kehidupan karena Sinar matahari, atau tenaga surya dapat digunakan untuk memanasi, memberikan penerangan, atau mendinginkan rumah atau bangunan lain, menghasilkan listrik, memanaskan air dan bermacam proses industri. Dengan memaksimalkan energi yang dipancarkan matahari, penggunaan sumber energi dapat lebih ditekan.
Sumber energi lain yang akan lebih maksimal penggunaannya antara lain tenaga angin. Dengan lautan dan garis pantai terpanjang di dunia, yaitu ± 80.791,42 km, menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki potensial untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga angin. Pemanfaatan tenaga angin ini juga dapat dioptimalkan untuk turbin angin yang sangat mendukung dalam kegiatan pertanian dan perikanan, seperti untuk keperluan irigasi, aerasi tambak ikan, dan sebagainya. Angin, yang sebagian besar orang baru menikmati sepoinya saja, jika dikelola serta didistribusikan dengan baik, maka akan memberi kebermanfaatan lebih bagi kelangsungan hidup manusia.
Energi dari gelombang lautan dan ombak serta tenaga panas lautanjuga dapat digunakan untuk membangkitkan energi listrik. Hal ini merupakan suatu peluang untuk memanfaatan energi alam terutama bagi masyarakat yang mengadu nasib di derasnya ombak.
Sumber energi lainnya, yaitu panas bumi. Panas bumi merupakan sumber energi bersih lingkungan karena tidak memproduksi emisi CO. Selain itu, energi yang dihasilkan bisa berkapasitas besar. Terlebih posisi Indonesia yang berada di Pasifik ring of fire membuat Indonesia memiliki potensi sumber energi panas bumi yang mencapai 28.000 MW. Potensinya tersebar di 265 lapangan di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali, NTT, Maluku, dan sebagian Kalimantan. Dalam pemanfaatan panas bumi ini tidak memerlukan kilang, pengangkutan, bongkar muat, dan bersifat lokal. Sumber energi panas bumi juga tidak dapat diekspor sehingga hanya bisa dimanfaatkan untuk keperluan domestik atau lokal. Hal ini dapat menjadi peluang dalam pengembangan sumber energi panas bumi agar kita mengurangi ketergantungan penggunaan minyak dan gas bumi serta membangun kemandirian energi lokal untuk membangun ketahanan energi nasional.
Sebenarnya ke semua sumber energi tersebut telah mulai dilakukan uji coba, bahkan di beberapa daerah telah menjadi energi alternatif yang memudahkan manusia dalam beraktivitas tanpa menyedot energi fosil. Masalah energi bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Perlu ada sinergisitas antarpihak dalam menyelesaikannya, yaitu pemerintah, peneliti, hingga masyarakat. Setiap komponen harus menjalankan peran masing-masing tanpa mengabaikan koordinasi.
Pemerintah berperan dalam membuat kebijakan dan menerapkan sistem manajemen energi secara konsisten dan berkelanjutan melalui. Sistem manajemen yang baik adalah sistem yang alur informasinya benar dan tepat sasaran. Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain:
1.Pembentukan tim manajemen sumber energi di semua wilayah
2.Penyusunan pola pemantauan secara terencana dan sistematis
3.Revisi master plan yang berbasis kawasan hemat energi
4.Penerapan teknologi penghematan energi
5.Penggunaan teknologi penghematan energi secara maksimal
6.Evaluasi penggunaan energi
Dalam menjalankan keenam poin tersebut, peneliti memiliki peran yang cukup strategis karena berkecimpung langsung dalam melakukan pencarian sumber energi dan menentukan teknologi apa yang sesuai dengan kondisi wilayah serta masyarakat. Selain itu, perlu diperhatikan juga dampak yang akan ditimbulkan dengan adanya pengelolaan sumber energi terbarukan tersebut, baik dari segi lingkungan, kesehatan, sosial, maupun ekonomi.
Bukan waktu yang sebentar untuk mengelola sumber energi menjadi energi yang dapat dimaksimalkan pemanfaatannya. Bukan hal yang murah juga untuk membangun suatu peradaban yang lebih baik. Oleh karena itu, selama tahap pencarian penggunaan energi yang tepat guna, perlu dibangun kesadaran tinggi di masyarakat sebagai pengguna energi. Pembatasan penggunaan energi merupakan salah satu tindakan positif agar kesadaran akan pentingnya energi tumbuh di semua lapisan. Pembatasan energi ini tidak hanya dilakukan di pengguna rumah tangga, tetapi di sektor industri dan trasnportasi. Kedua sektor ini memang memakan energi terbesar dalam kurun waktu terakhir ini.
Out of the box thinking. Itu yang harus kita terapkan dalam menuntaskan permasalahan krisis energi ini. Berpikir lebih luas dan terbuka serta cermat terhadap sesuatu yang sesungguhnya bertuah untuk kehidupan masa depan. Biarkan kini bahan bakar fosil menjadi cadangan energi karena saatnya kita bereformasi, memanfaatkan ‘gerbang lain’untuk kesinambungan antargenerasi. Ada suatu hal yang sangat penting, do action. Tanpa hal tersebut mustahil apa yang dicitakan akan terwujud. Saya menekankan pada hal ini karena masih sedikit orang yang mampu mengeluarkan gagasan dengan diimbangi oleh action yang sesuai.
Mengapa harus mereformasi penggunaan energi sedari dini? Sebuah pertanyaan klasik sebenarnya.
Memang, untuk penggunaan 20-30 tahun ke depan pemenuhan kebutuhan energi masih dapat digunakan. Tapi bukan saatnya kita egois memikirkan nasib sendiri sedang generasi berikutnya harus terlantar dengan kondisi energi yang sangat minim. Oleh karena itu, sangat penting penerapa pembangunan berkelanjutan demi memaksimalkan kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Pembangunan berkelanjutan dapat membantu untuk mengurangi kemiskinan dan mengeliminasi kerusakan sumber daya alam dan lingkungan.
Kepedulian pemerintah dalam menemukan titik terang memerangi krisis energi saat ini dirasa sudah muncul. Terbukti dengan dikeluarkannya beberapa kebijakan yang memang bertujuan untuk memaksimalkan energi lama dan melakukan pencarian energi baru yang lebih banyak keunggulannya. Sayangnya, masih perlu peningkatan peran dan konsentrasi pemerintah dalam mewujudkan dunia yang lebih aman dan tenteram lagi. Pemerintah daerah, terutama, harus mengetahui secara mendalam tentang kondisi wilayah serta bidang social, ekonomi, dan budaya yang dipimpinnya. Hal ini akan dapat memudahkan dalam pembuatan kebijakan demi perbaikan yang maksimal.
Mahasiswa, sebagai ‘wilayah menengah’ yang mampu menyentuh ‘kawasan’ pemerintah serta penyambung lidah dari golongan grass root dengan pihak pemerintah, harus mampu memberikan pencerahan kepada pihak pemerintah dalam meluncurkan kebijakan agar tidak salah kaprah dan bermanfaat pada pihak mayoritas. Selain memberikan pencerahan dan saran dalam menentukan kebijakan, mahasiswa mampu memberikan solusi atas masalah yang terjadi. Mempelajari kehidupan nyata adalah salah satu pelajaran wajib dalam memahami perjalanan hidup di universitas kehidupan.
Maju bersatu untuk Indonesia yang Maju dan Berkontribusi Penuh!
Bulan yang berat di penghujung tahun.
Ternyata menjadi mahasiswa tidak hanya memikirkan bagaimana mengejar IPK dan lulus lebih cepat, tetapi bagaimana bisa bertahan hidup di tengah keganasan kota.
Uang menjadi salah satu hal yang 'menghidupi' manusia, termasuk aku.
Entah mengapa, pengeluaran makin hari makin menyusut.
Aku tidak tega jika harus meminta terus ke orang tua.
Udah bayar mahal, biaya hidup mahal, belum bisa irit uang lagi.
-_-'
salah satu hal yang bisa membuat saya bertahan hidup adalah seperti hari ini. Ikut seminar!
Seminar itu plus-plus soalnya.
Udah dapet ilmu, ketemu tokoh, dapet sertifikat, plus makan pula.
=)
Sungguh sangat menyesal hari kemarin ada seminar di FE tidak aku hadiri.
Padahal udah daftar lhooo..
>.<
ditambah souvenirnya bagus-bagus. Terlebih makanannya.
Aku bisa bertahan hidup dari sini.
Mahasiswa.
Belajar.
Mengabdi.
Meneliti.
Tapi bagaimana bisa mengabdi kalau menghidupi juga belum bisa?
Ya Rabb, tunjukkan jalanMu.
Ke manakah aku harus meneruskan perjalanan ini?
Ke manakah aku harus mencari kehidupan yang lebih nyata selain menunggu 'kehidupan' yang belum jelas kapan lagi datangnya...?
Biologi. Sebuah pelajaran yang membuatku menjadi kikuk. Aku harus bercokol dengan nama-nama Latin, mempelajari bentuk dan kehidupan suatu makhluk, dan melakukan penelitian.
Tiba akhirnya hari itu. Sabtu, 13 November, aku harus melawan rasa gentar yang selama ini menjalar. Hingga subuh materi belum dikuasai seluruhnya. Akhirnya kukuatkan hati untuk melangkah ke kampus tercinta.
Bertemu dengan teman-teman yang kelihatannya sudah mempelajari materi membuatku lebih termotivasi. Kucoba tuk hilangkan rasa gentarku dan mulai melangkah masuk ke ruangan.
"Tas dan hp tolong kumpulkan di depan." ujar Ibu Ema, dosen biologi.
Kumantapkan hati. Konsentrasiku mulai gamang. Hingga tiba saatnya soal di depan mata.
Tiga puluh soal.
Klik. Klik. Klik.
Satu persatu soal kujawab.
Aku mulai mendapatkan kepercayadirian. Soal yang aku dapat pernah kupahami sebelumnya, meski ada beberapa yang out of my brain.
>.<
Kuulang dari awal. Setelah dihitung, paling hanya 7-9 soal yang salah.
Akhirnya, kuklik 'Selesai'.
Nilai muncul.
SALAH 13!
Innalillahi...
Tak kuasa mata ini menahan tangis.
Aku ingin lari. Ingin pergi. Ingin keluar dari ketidaklogisan ini.
Tapi aku tetap tidak boleh memperlihatkan kelemahanku di depan mereka.
Di depan teman-teman.
Aku tidak ingin memberi aura negatif pada mereka.
Saking tak kuasanya, aku lari menuju halte dan Allah telah menyediakan bikun di depan mata.
Tanpa pikir panjang, aku lompat ke bikun dan berlenggang ke asrama.
Kutelepon mas dan mamah.
Ku-sms mamah dan bapak.
Tak kunjung ada respon.
Tangis ini tak bisa ditahan dan akhirnya memecah kebisuan di tengah siang.
Tapi aku tidak boleh begini terus.
Bangkit dan berubah!
SAYA MASIH BERHAK UNTUK MENDAPATKAN HASIL YANG LEBIH MAKSIMAL DARI INI!
Tegas kulantangkan dan kutekadkan dalam sanubari.
Beberapa menit kemudian, kondisiku sudah terkontrol dan melanjutkan perjalanan kehidupan.
Berbuat adalah Belajar, Bukan Hasil
Terima kasih, Kang Mahameru. (saya lupa namanya siapa) Aku mendapat spirit dan makna hidup baru.
Kang Mahameru adalah alumnus FE UI 2006.
Beliau telah mendirikan TPA Mahameru, saking ngebetnya ia untuk menjelajahi langit Mahameru.
Dari Mawar Merah memang diamanahkan untuk mengajar di TPA beliau.
Dan aku salah satu bagiannya.
Beliau memberitahu bagaimana mengajar, metodenya, tujuannya, proses hidupnya, kendalanya, suka dukanya, dan lalala-nya deh...
Aku, sebagai salah seorang yang diamanahi untuk mengajar, ternyata jangan pernah berpikiran bahwa aku lebih baik dari mereka, dari 26 mujahid dan mujadid yang lucu dan imut.
Aku harus memposisikan diri sebagai seorang yang sabar, benar-benar menanamkan hati, berniat untuk berbagi ilmu dan belajar juga dari mereka.
intinya, BELAJAR.. BELAJAR. BELAJAR..
Tak ada waktu untuk SOMBONG DAN HURA-HURA!
Terima kasih, Ya Allah...
Engkau telah memberikanku jalan yang lebih dekat kebenarannya dari kemarin...
=)
Sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat m'jadi khalifah & Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kpd Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan, isteri tercinta. Umar b;kata kpdnya, "Isteriku sayang, kanda harap dinda memilih 1 di antara 2."
Umar bin Abdul Aziz menerangkan,"Memilih antara perhiasan emas berlian yg dinda pakai dgn Umar bin Abdul Aziz yg m'dampingimu."
Kata Fatimah, "Demi Allah, dinda tdak memilih pendamping lbih mulia drpdmu, ya Amirul Mukminin. Inilah permata & seluruh perhiasanku."
Kemudian, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima smua perhiasan itu & menyerahkannya ke Baitul Mal, khazanah negara kaum Muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz & keluarganya makan makanan rakyat biasa, iaitu roti & sdikit garam.
Umar bin Abdul Aziz adalah sosok yang berkepribadian kuat, bermental baja, mampu mencarikan solusi terbaik dari setiap problematika yang ada dan memiliki analisa yang tajam.
Di antara karakteristik yang dimilikinya:
a. Rasa takut yang tinggi kepada Allah I.
Hal yang menjadikan Umar bin Abdul Aziz begitu fenomenal bukanlah karena banyaknya shalat dan puasa yang dikerjakan, tetapi karena rasa takut yang tinggi kepada Allah dan kerinduan akan surga-Nya. Itulah yang mendorong beliau menjadi pribadi yang berprestasi dalam segala aspek; ilmu dan amal.
Dikisahkan pada suatu hari si Umar kecil menangis tersedu dan hal itu terdengar oleh ibunya. Lantas ditanyakan apa sebabnya. Beliau pun menjawab: “Aku teringat mati”. Maka sang ibu pun menangis dibuatnya
Pernah seorang laki-laki mengunjungi Umar bin Abdul Aziz yang sedang memegang lentera. “Berilah aku petuah!”, Umar membuka perbincangan. Laki-laki itu pun berujar: “Wahai Amirul Mukminin!! Jika engkau masuk neraka, orang yang masuk surga tidaklah mungkin bisa memberimu manfaat. Sebaliknya jika engkau masuk surga, orang yang masuk neraka juga tidaklah mungkin bisa membahayakanmu”. Serta merta Umar bin Abdul Aziz pun menangis tersedu sehingga lentera yang ada di genggamannya padam karena derasnya air mata yang membasahi.
b. Wara’.
Di antara bentuk nyata sikap Wara’ yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz adalah keenganan beliau menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi, meskipun hanya sekedar mencium bau aroma minyak wangi. Hal itu pernah ditanyakan oleh pembantunya, “Wahai khalifah! Bukankah itu hanya sekedar bau aroma saja, tidak lebih?”. Beliau pun menjawab: “Bukankah minyak wangi itu diambil manfaatnya karena bau aromanya?”.
Dikisahkan suatu hari Umar bin Abdul Aziz pernah mengidam-idamkan buah apel. Tiba-tiba salah seorang kerabatnya datang berkunjung seraya menghadiahi sekantong buah apel kepada beliau. Lalu ada seseorang yang berujar: “Wahai Amirul Mukminin Bukankah Nabi r dulu pernah menerima hadiah dan tidak menerima sedekah?”. Serta merta beliau pun menimpali, “Hadiah di zaman Nabi benar-benar murni hadiah, tapi di zaman kita sekarang ini hadiah berarti suap”.
c. Zuhud.
Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang sangat zuhud, bahkan kezuhudan yang dimilikinya tidaklah mungkin bisa dicapai oleh siapa pun setelahnya. Kezuhudan yang mencapai level tertinggi di saat ‘puncak dunia’ berada di genggamannya.
Malik bin Dinar pernah berkata: “Orang-orang berkomentar mengenaiku, “Malik bin Dinar adalah orang zuhud.” Padahal yang pantas dikatakan orang zuhud hanyalah Umar bin Abdul Aziz. Dunia mendatanginya namun ditinggalkannya”.
Pernahkan terbetik di benak kita seorang kepala negara ketika berkeinginan menunaikan ibadah haji, ia tidak bisa berangkat hanya karena uang perbekalannya tidak cukup? Pernahkah terlintas di bayangan kita seorang bangsawan yang hanya memiliki satu buah baju, itu pun berkain kasar? Si zuhud Umar bin Abdul Aziz pernah mengalaminya!
d. Tawadhu’.
Keluhuran budi pekerti yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz sangatlah tinggi. Hal itu tercermin dari sekian banyaknya karakteristik yang menonjol pada diri beliau. Di antaranya adalah sikap Tawadhu’nya.
Suatu hari ada seorang laki-laki memanggil beliau, “Wahai khalifah Allah di bumi!” Maka beliau pun berkata kepadanya: “Ketika aku dilahirkan keluargaku memberiku nama Umar. Lalu ketika aku beranjak dewasa aku sering dipanggil dengan sebutan Abu Hafs. Kemudian ketika aku diangkat menjadi kepala negara aku diberi gelar Amirul Mukminin. Seandainya engkau memanggilku dengan nama, sebutan atau gelar tersebut aku pasti menjawabnya. Adapun sebutan yang barusan engkau berikan, aku tidaklah pantas menyandangnya. Sebutan itu hanya pantas diberikan kepada Nabi Daud u dan orang yang semisalnya”, seraya membacakan firman Allah I,
) يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ (
Artinya: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi”. (QS. Shad: 26).
Namun, ada yang lebih mengagumkan lagi! Kisah yang mencerminkan sikap Tawadhu’ yang dimilikinya; Kisah Umar bin Abdul Aziz dengan seorang pembantunya.
Pernah suatu saat Umar bin Abdul Aziz meminta seorang pembantunya untuk mengipasinya. Maka dengan penuh cekatan sang pembantu segera mengambil kipas, lalu menggerak-gerakkannya. Semenit, dua menit waktu berlalu, hingga akhirnya Umar bin Abdul Aziz pun tertidur. Namun, tanpa disadari ternyata si pembantu juga ikut ketiduran. Waktu terus berlalu, tiba-tiba Umar bin Abdul Aziz terbangun. Ia mendapati pembantunya tengah tertidur pulas dengan wajah memerah dan peluh keringat membasahi badan disebabkan panasnya cuaca. Serta merta Umar bin Abdul Aziz pun mengambil kipas, lalu membolak-balikkannya mengipasi si pembantu. Dan sang pembantu itu pun akhirnya terbangun juga, begitu membuka mata ia mendapati sang majikan tengah mengipasinya tanpa rasa sungkan dan canggung. Maka dengan gerak reflek yang dimilikinya ia menaruh tangan di kepala seraya berseru karena malu. Lalu Umar bin Abdul Aziz pun berkata menenangkannya: “Engkau ini manusia sepertiku! Engkau merasakan panas sebagaimana aku juga merasakannya. Aku hanya ingin membuatmu nyaman -dengan kipas ini- sebagaimana engkau membuatku nyaman”.
e. Adil.
Di antara sekian karakteristik yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz, adil adalah sikap yang paling menonjol. Sikap itulah yang menjadikan nama beliau begitu familiar di telinga generasi setelahnya hingga hari ini. Keadilannya selalu digaungkan oleh para pencari keadilan, entah karena betul-betul ingin menapaktilasi jejaknya ataukah hanya sekedar kamuflase belaka. Yang terpenting adalah nama besarnya telah mendapat tempat di hati para penerus perjuangannya. Dan nama itu terukir indah dengan tinta emas di deretan para pemimpin yang adil, para pemimpin yang terbimbimg oleh kesucian wahyu; Al Qur’an dan Sunnah, para pemimpin yang dijuluki al-Khulafa’ ar-Rasyidun. Dan sejarah Islamlah pengukirnya.
Al-Ajurri menceritakan sikap adil yang dimilikinya, beliau berujar: “Seorang laki-laki Dzimmidari penduduk Himsh pernah mendatangi Umar bin Abdul Aziz seraya mengadu: “Hai Amirul Mukminin! Aku ingin diberi keputusan dengan hukum Allah”. “Apa yang engkau maksud?”, sergah Umar bin Abdul Aziz. “Abbas bin Walid bin Abdul Malik telah merampas tanahku”, lanjutnya -saat itu Abbas sedang duduk di samping Umar bin Abdul Aziz-. Maka Umar bin Abdul Aziz pun menanyakan hal itu kepada Abbas, “Apa komentarmu?”. “Aku terpaksa melakukan itu karena mendapat perintah langsung dari ayahku; Walid bin Abdul Malik”, sahut Abbas membela diri. Lalu Umar pun balik bertanya kepada si Dzimmi, “Apa komentarmu?”. “Wahai Amirul Mukminin! Aku ingin diberi keputusan dengan hukum Allah”, ulang si Dzimmi. Serta merta Umar bin Abdul Aziz pun berkata: “Hukum Allah lebih berhak untuk ditegakkan dari pada hukum Walid bin Abdul Malik”, seraya memerintahkan Abbas untuk mengembalikan tanah yang telah dirampasnya.
Kisah di atas hanyalah satu dari sekian puluh bahkan ratus sikap adil yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz. Kisah tentang keadilannya begitu mudah di dapati di buku-buku sejarah yang menulis biografinya. Kisah yang memenuhi lembar demi lembar buku para sejarawan. Sungguh sebuah kisah, siapa pun pembacanya pasti akan menggeleng-gelengkan kepala tanda takjub sambil menyunggingkan rasa masygul tanpa ragu, diiringi air mata bahagia yang turut mengharukan suasana.
Nama : Abu Jaafar Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam
Nama Ibu : Laila binti Asim bin Umar bin Al-Khatab
Tanggal Lahir : 61H
Umur : 39 tahun
Tarikh M/Dunia : 101H
Jawatan : Khalifah Ke 6 Bani Umaiyyah
Tarikh Lantikan : Safar 99H @ 717M
Lama Berkhidmat : 2 tahun 5 bulan
- Pendidikan
Beliau telah menghafaz al-Quran sejak masih kecil. Merantau ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau telah berguru dengan beberapa tokoh terkemuka spt Imam Malik b. Anas, Urwah b. Zubair, Abdullah b. Jaafar, Yusuf b. Abdullah dan sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir.
Beliau telah dipanggil balik ke Damsyik oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan apabila bapanya meninggal dunia dan dikahwinkan dengan puteri Khalifah, Fatimah binti Abdul Malik (sepupunya).
- Sifat-Sifat Pribadi
Beliau mempunyai keperibadian yang tinggi, disukai ramai dan warak yang diwarisi dari datuknya Saidina Umar bin Al-Khatab. Baginda amat berhati-hati dengan harta terutamanya yang melibatkan harta rakyat. Sesungguhnya kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menyediakan dua lilin di rumahnya, satu untuk kegunaan urusan negara dan satu lagi untuk kegunaan keluarga sendiri tentunya telah diketahui umum dan tidak perlu diulang-ulang.
Sebagai seorang yang zuhud, kehidupannya semasa menjadi Gabenor Madinah dan Khalifah adalah sama seperti kehdupannya semasa menjadi rakyat biasa. Harta yang ada termasuk barang perhiasan isterinya diserahkan kepada Baitulmal dan segala perbelanjaan negara berdasarkan konsep jimat-cermat dan berhati-hati atas alasan ia adalah harta rakyat. Ini terbukti apabila beliau dengan tegasnya menegur dan memecat pegawai yang boros dan segala bentuk jamuan negara tidak dibenarkan menggunakan harta kerajaan.
Pada suatu hari beliau berkhutbah yang mana antara isinya adalah seperti berikut ;
Setiap orang yang musafir mesti memperlengkapi bekalannya. Siapkanlah taqwa dalam perjalanan kamu dari dunia menuju akhirat. Pastikan dirimu sama ada mendapat pahala atau siksa, senang atau susah.
Jangan biarkan masa berlalu sehingga hatimu menjadi keras dan musuh sempat mengoda. Sebaik-baiknya saudara menganggap bahawa hidup pada petang hari tidak akan sampai ke pagi hari dan hidup pada pagi hari tidak akan sampai ke petang hari. Memang tidak jarang terjadi kematian ditengah-tengahnya
Saudara-saudara dapat menyaksikan sendiri bahawa ramai orang yang tertipu dengan dunia, padahal orang yang layak bergembira tidak lain kecuali orang yang selamat daripada siksaan Allah SWT dan orang yang lepas dari tragedi hari qiamat.
Sementara orang yang tidak mahu mengubati yang sudah luka, kemudian datang lagi penyakit lain, bagaimana mungkin mahu bergembira? Saya berlindung kepada Allah SWT daripada perbuatan yang tidak aku pegangi dan amalkan sendiri. Seandainya begitu, alangkah rugi dan tercelanya aku. Dan jelaslah tempatku nanti pada hari yang jelas kelihatan siapa yang kaya dan siapa yang miskin.
Di sana nanti akan diadakan timbangan amal serta manusia akan diserahi tanggungjawab yang berat. Seandainya tugas itu dipikul oleh binatang-binatang nescaya ia akan hancur, jika dipikul oleh gunung nescaya ia akan runtuh, kalau dipikul oleh bumi nescaya bumi akan retak. Saudara-saudara belum tahu bahawa tiada tempat di antara Syurga dan Neraka? Kamu akan memasuki salah satu daripadanya.
Ada seorang lelaki yang mengirim surat kepada rakannya yang isinya Sesungguhnya dunia ini adalah tempat bermimpi dan akhirat barulah terjaga Jarak pemisah antara keduanya adalah mati. Jadi, kita sekarang sedang bermimpi yang panjang
Terdapat banyak riwayat dan athar para sahabat yang menceritakan tentang keluruhan budinya. Di antaranya ialah :
At-Tirmizi meriwayatkan bahawa Umar Al-Khatab telah berkata : Dari anakku (zuriatku) akan lahir seorang lelaki yang menyerupainya dari segi keberaniannya dan akan memenuhkan dunia dengan keadilan
Dari Zaid bin Aslam bahawa Anas bin Malik telah berkata : Aku tidak pernah menjadi makmum di belakang imam selepas wafatnya Rasulullah SAW yang mana solat imam tersebut menyamai solat Rasulullah SAW melainkan daripada Umar bin Abdul Aziz dan beliau pada masa itu adalah Gabenor Madinah
Al-Walid bin Muslim menceritakan bahawa seorang lelaki dari Khurasan telah berkata : Aku telah beberapa kali mendengar suara datang dalam mimpiku yang berbunyi : Jika seorang yang berani dari Bani Marwan dilantik menjadi Khalifah, maka berilah baiah kepadanya kerana dia adalah pemimpin yang adil. Lalu aku menanti-nanti sehinggalah Umar b. Abdul Aziz menjadi Khalifah, akupun mendapatkannya dan memberi baiah kepadanya.
Qais bin Jabir berkata : Perbandingan Umar bin Abdul Aziz di sisi Bani Ummaiyyah seperti orang yang beriman di kalangan keluarga Firaun
Hassan al-Qishab telah berkata : Aku melihat serigala diternak bersama dengan sekumpulan kambing di zaman Khalifah Umar Ibnu Aziz
Umar b Asid telah berkata emi Allah, Umar Ibnu Aziz tidak meninggal dunia sehingga datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada orang ramai : Ambillah hartaku ini sebanyak mana yang kamu mahu. Tetapi tiada yang mahu menerimanya (kerana semua sudah kaya) dan sesungguhnya Umar telah menjadikan rakyatnya kaya-raya
Atha telah berkata : Umar Abdul Aziz mengumpulkan para fuqaha setiap malam. Mereka saling ingat memperingati di antara satu sama lain tentang mati dan hari qiamat, kemudian mereka sama-sama menangis kerana takut kepada azab Allah seolah-olah ada jenayah di antara mereka.
- Umar Ibnu Aziz Sebagai Khalifah
Beliau dilantik menjadi Khalifah stelah kematian sepupunya, Khalifah Sulaiman atas wasiat khalifah tersebut. Setelah mengambilalih tampuk pemerintahan, beliau telah mengubah beberapa perkara yang lebih mirip kepada sistem fuedal. Di antara perubahan awal yang dilakukannya ialah :
menghapuskan cacian terhadap Saidina Ali bin Abu Thalib dan keluarganya yang disebut dalam khutbah-khutbah Jumaat dan digantikan dengan beberapa potongan ayat suci al-Quran
merampas kembali harta-harta yang disalahgunakan oleh keluarga Khalifah dan mengembalikannya ke Baitulmal
memecat pegawai-pegawai yang tidak cekap, menyalahgunakan kuasa dan pegawai yang tidak layak yang dilantik atas pengaruh keluarga Khalifah
menghapuskan pegawai peribadi bagi Khalifah sebagaimana yang diamalkan oleh Khalifah terdahulu. Ini membolehkan beliau bebas bergaul dengan rakyat jelata tanpa sekatan tidak seperti khalifah dahulu yang mempunyai pengawal peribadi dan askar-askar yang mengawal istana yang menyebabkan rakyat sukar berjumpa.
Selain daripada itu, beliau amat mengambil berat tentang kebajikan rakyat miskin di mana beliau juga telah menaikkan gaji buruh sehingga ada yang menyamai gaji pegawai kerajaan.
Beliau juga amat menitikberatkan penghayatan agama di kalangan rakyatnya yang telah lalai dengan kemewahan dunia. Khalifah umar telah memerintahkan umatnya mendirikan solat secara berjammah dan masjid-masjid dijadikan tempat untuk mempelajari hukum Allah sebegaimana yang berlaku di zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa Ar-Rasyidin. Baginda turut mengarahkan Muhammad b Abu Bakar Al-Hazni di Mekah agar mengumpul dan menyusun hadith-hadith Raulullah SAW.
Dalam bidang ilmu pula, beliau telah mengarahkan cendikawan Islam supaya menterjemahkan buku-buku kedoktoran dan pelbagai bidang ilmu dari bahasa Greek, Latin dan Siryani ke dalam bahasa Arab supaya senang dipelajari oleh umat Islam.
Dalam mengukuhkan lagi dakwah Islamiyah, beliau telah menghantar 10 orang pakar hukum Islam ke Afrika Utara serta menghantar beberapa orang pendakwah kepada raja-raja India, Turki dan Barbar di Afrika Utara untuk mengajak mereka kepada Islam. Di samping itu juga beliau telah menghapuskan bayaran Jizyah yang dikenakan ke atas orang yang bukan Islam dengan harapan ramai yang akan memeluk Islam.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan keadilannya telah menjadikan keadilan sebagai keutamaan pemerintahannya. Beliau mahu semua rakyat dilayan sama adil tidak mengira keturunan dan pangkat supaya keadilan dapat berjalan dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangan adalah menyamai keadilan di zaman datuknya, Khalifah Umar Al-Khatab ! yang sememangnya dinanti-nantikan oleh rakyat yang selalu ditindas oleh pembesar yang angkuh dan zalim sebelumnya.
Beliau akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah memerintah selama 2 tahun 5 bulan dan 2 tahun 5 bulan satu tempoh yang terlalu pendek bagi sebuah pemerintahan.
Tetapi Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah membuktikan sebaliknya. Dalam tempoh tersebut, kerajaan Umaiyyah semakin kuat, tiada pemberontakan dalaman, kurang berlaku penyelewengan, rakyat mendapat layanan yang sewajarnya dan menjadi kaya-raya hinggakan Baitulmal penuh dengan harta zakat kerana tiada lagi orang yang mahu menerima zakat, kebanyakannya sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya boleh berdikari sendiri.
Semua ini adalah jasa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang sangat masyhur, adil dan warak yang wajar menjadi contoh kepada pemerintahan zaman moden ini. Hanya 852 hari dapat mengubah sistem pemerintahan ke arah pemerintahan yang diredahi Allah dan menjadi contoh sepanjang zaman. Satu rekod yang sukar diikuti oleh orang lain melainkan orang yang benar-benar ikhlas.