twitter


Saat Aku Cemburu

Ya Rabb, maafkan hamba
Tak selayaknya hati ini mencemburui dia
Harusnya saya cemburu pada orang-orang yang mencintai-Mu
Yang begitu indah melantunkan mushaf-Mu
Pada orang-orang yang sunnahnya selalu dijaga, terlebih wajibnya
Pada orang-orang yang tak pernah perhitungan dalam berbagi titipan-Mu
Serta pada orang-orang yang menjaga amanah-Mu menjadi khalifah di bumi ini,
Yang ilmunya selalu mengalir, pun doanya Engkau kabulkan

Untuknya yang pernah membuat hatiku tenang dan senang
Untuknya yang pernah memiliki hati ini
Tak pernah kusesali pertemuan denganmutak pernah kuragukan keberadaan kasihmu
Tak pernah kusalahi prinsip ini yang membuatmu lepas dari hari-hariku

Semoga engkau bahagia dengannya
Kutahu engkau seorang yang baik dan tak pernah mengecewakan
Jaga ia seperti kau menjagaku
Ingatkan ia jika tengah lalai
Tenangkan ia saat gundah, seperti kau mengubah sedihku menjadi senyuman
Cintai ia semampu yang kau punya
Berjalan bersama,
Saling menguatkan kala lemah,
Saling menghargai kala dalam perbedaan

Izinkan aku untuk menyimpan semua catatan tentangmu
Bukan untuk mengusikmu.
Hanya kisah indah sebagai kenangan dan hikmah hidup yang aku pijaki
Doakan aku, semoga usaha yang pernah aku lakukan untukmu menjadi tabungan ibadah
Pun ikhtiar untuk mempersiapkan diri di hari yang telah Ia gariskan,
yaitu mempertemukanku dengan seseorang di masa depan,
adalah titik awal untuk perubahan besar

kuatkan aku dalam doamu,
jangan kau kecawakan ia ^_^

“…karena berharap kepada-Nya tidak pernah tertolak dan cinta kepada-Nya selalu disambut ketenangan rasa, jiwa, dan logika…”



“Ternyata saya salah mengenalmu
Ternyata saya telah buta oleh kata-katamu”

Maafkan saya, Ya Rabb…
Terima kasih Engkau telah tunjukkan kuasa-Mu
Kau telah menguatkan dan mengembalikan akal sehatku
Bantu dan kuatkan saya untuk menemukan seorang seperti Umar bin Abdul Aziz, Ya Allah…
Jika memang hal ini yang menghambatku untuk meraih ridho-Mu, jauhkanlah dari ini…

Astaghfirullah…
Jangan buat hal itu kembali lagi jika membuat saya jauh dari-Mu

Untukmu, seseorang yang akan menjadi imamku.  Saat ini aku sedang berjuang melawan hawa nafsuku, membenahi diri agar aku bisa menjadi bidadarimu selamanya…



Ya Rabb, Saat Kali Ketiga Namaku Tidak Masuk ke dalam Daftar
‘Orang-Orang Pilihan’..

Entah apa jalan yang harus aku pilih
Begitu berat langkah ini untuk maju
Saat kaki ini melangkah untuk mengarungi jalan,
Aku harus siap untuk jatuh atau tersandung terjalnya bukit

Aku harus bertahan dari badai yang melemparkanku
Aku harus kuat dari arus yang menerjang

Di kamar yang berukuran 4x4 m ini
Kurebahkan diri ke tempat tidur
Meski mataku hanya sampai pada langit-langit,
Namun mata hatiku jauh menembus cakrawala

Pikiranku terbang bersama mimpi-mimpi yang seperti menjauh
Namun sebenarnya mendekat

Ya Allah, hamba yakin usaha ini tidaklah sia-sia
Hamba mohon, tunjukkanlah hal-hal yang buruk,
Yang menghambatku untuk menembus inginku
Agar hamba bisa memperbaiki diri dan menjadi lebih baik

Ya Rabb, maafkan hamba yang telah seenaknya sombong
Padahal sesungguhnya Engkau satu-satunya yang berhak menyombongkan diri
Mohon tunjukkan jalan terbaik-MU

Hamba sadar, Engkau lebih tahu apa yang terbaik buat hamba
Daripada yang hamba inginkan

Biarkan air mata yag sedari tadi menetes adalah bukti kesungguhanku mengejar mimpi
Dan biarkan tangis tadi berubah jadi senyuman saat ini hingga nanti




Untuk tahu kau masih ‘di sini’, itu sudah cukup bagiku
Entah apa inginmu
Entah apa yang salah dari ucapanku
Entah apa dasarmu

Kubiarkan engkau pergi
Kubiarkan engkau lepas dari sangkar hatiku

Sebuah ungkapan yang ingin aku dengar dari dulu
Namun justru aku yang mentahkan asa itu
Dan membiarkan ‘ia’ berkelana dulu
Menantikan aku untuk siap di saat yang tepat

Ya Allah, terima kasih aku telah diuji
Luluskah? ^_^

13 Februari 2011
00.03



Surat buat Adik…
Ruang Kesaksian, 13 Maret 2011
Untuk Adikku yang Tak Pernah Gentar
di Perjalanan Kesuksesan
Dik, bagaimanakah kabarmu?  Kudengar engkau sedang dalam kegamangan.  Perubahan aturan ujian tahun ini cukup membuat idealismemu sedikit luntur.  Terlebih aturan seleksi masuk perguruan tinggi banyak perubahan juga.
Tenanglah, Dik.  Mari kita mulai dengan niat suci, Lillahi ta’ala.  Dari sebuah visi yang tak sekedar untuk mencari popularitas.  Tapi lebih dari itu, untuk memberikan perubahan lebih baik untuk bangsa dan agama.
Maaf jika surat ini mengganggu strategimu atau bahkan merusak rencana matangmu. Lewat coretan ini aku hanya ingin aku berbagi denganmu.  Berbagi kisah yang sebentar lagi mungkin akan kau temui.  Bukan bermaksud menggurui.  Hanya saja, aku tak ingin kau mengulang kisah kelabuku dan merasakan naik dan turunnya motivasi mimpi yang membuat banyak hal terganggu.
Ini adalah dorongan perbaikan diri menuju perbaikan bangsa.  Tentang kesadaran yang terlambat.  Tentang ambisi akan pujian.  Tentang kebutaan atas kesombongan.  Tentang ketidakjujuran yang pernah aku lakukan.  Dan tentang harapan yang masih ada.  Tentang perubahan yang masih mampu terlaksana.  Tentang keburukan yang ingin aku hentikan mata rantainya.  Saat ini.  Saat di mana engkau dihadapkan dengan ujian yang semakin menantang.  Saat ini.  Saat keburukan ingin kubinasakan dalam-dalam.
Di akhir jenjang ini kau dihadapkan dengan ujian yang kerapkali menjadi kegetiran di hati kalian.  Terlebih kini dengan situasi yang lebih ‘mengasyikan’.  Percayalah, DIk.  Semakin menantang ujian yang kau hadapi, semakin banyak pelajaran hidup yang kau ambil, semakin dewasa pula engkau dalam berbuat.  Aku percaya, Dik. Engkau tak akan melakukan hal yang tak mulia itu.  Jika memang telah terbersit di benakmu, aku mohon luruskan kembali niat muliamu.
Bukan bermaksud untuk mengatur pilihan hidupmu.  Aku hanya ingin engkau menyadari lebih awal dari apa yang baru aku sadari.  Jujur, aku menyesal, Dik, pernah ‘bekerja sama’ saat ujian dulu.  Aku juga menyesal pernah melalaikan tugas.  Bahkan pernah juga aku tak masuk kelas karena malas.  Padahal belajar pun mengandalkan di kelas karena di rumah kupegang buku hanya untuk mengganti jadwal.  Saat menghadapi ujian pun aku baru belajar saat malamnya.  Aku sedih, nilai-nilai yang aku dapat hanya nilai remedial. 
Dulu aku belum sadar sepenuhnya tentang apa yang aku lakukan.  Hingga akhirnya asa suram itu hadir, menguasai diri, mengarahkan pada hal yang tak selayaknya dipijaki.  Secara teori, antara hitam dan putih itu begitu kontras, begitu mencolok, dan begitu jauh perbandingannya.  Tapi berbeda dengan kenyataan. Benci dan cinta.  Hitam dan putih.  Taat dan biadab.  Begitu tipis benang pemisahnya.  Hingga seringkali tak disadari bahwa kita sudah berada di jalur yang entah di mana kemuliaannya.
Perlu waktu berbulan-bulan dan beberapa kejadian untuk menyadari betapa bandelnya aku saat dulu.  Tak bersyukur atas kesempatan yang telah Allah anugerahkan.  Kusadari betapa buruk persiapanku menghadapi masa depan.  Hingga akhirnya, saat ujian aku gelisah, tak percaya diri, hasil tak memuaskan, raut orang tua pun menyesakkan air mata. Dik, jangan sia-siakan kesempatan ini.  Jangan lengah terhadap situasi.  Tapi hati-hati, jangan sampai engkau terlalu berambisi karena hal itu akan membutakanmu.  Membuatmu lepas kendali dan tak siap dengan berbagai kondisi. 
Oya, sudah sejauh mana persiapanmu menghadapi ujian?  Aku yakin sudah maksimal.  Semoga semangatmu selalu berpacu dengan cita-citamu dan niat muliamu tak tergoyahkan oleh bisikan yang membuai namun menyesatkan. 
Saat menghadapi ujian dulu, banyak sekali kabar burung yang berkembang.  Banyak pula strategi ‘miring’ yang (katanya) dilakukan oleh berbagai oknum.  Ada kunci jawaban yang didapat dari teman di sekolah lain.  Ada juga kunci jawaban yang disebar lewat sms.  Yang lebih mengenaskan, kunci jawaban dijualbelikan kepada siswa bahkan guru dengan harga puluhan ribu hingga mencapai jutaan.
Selain itu, ada pula strategi yang dilakukan saat ujian berlangsung di mana masing-masing kelas ada ‘gegedug’nya dan kunci jawaban disebar di toilet, lewat gerak pantomim, bahkan LJK dikelilingkan.  Strategi menuliskan kunci jawaban yang telah diketahui di secarik kertas, penghapus, atau menuliskan rumus di beberapa alat yang strategis, berdasarkan cerita dari beberapa orang, masih terjadi di angkatanku.  Bahkan ada juga yang ‘dihalalkan’ bekerja sama dengan leluasa. “Asal tidak berisik dan mencurigakan.” Dan begitu bangganya dengan nilai ujian tertinggi meski entah dengan cara apa mendapatkannya.  
Bagaimanakah dengan angkatanmu?  Sudah terciumkah strategi seperti ini?  Ataukah ada strategi baru yang lebih ‘canggih’? 
Semoga tetap berkobar semangat idealismemu.  Tunjukkanlah bahwa kalian memang benar-benar generasi Ulul Albab, yang kerapkali engkau dengungkan seantero gedung.  Buktikanlah bahwa kalian memang generasi pilihan yang Allah titiskan di bumi ini.  Jangan sampai engkau telah berpredikat koruptor dari sekarang.  Aku mohon, jangan perparah ibu pertiwi ini.  Jangan ikuti jejak burukku, jejak buruk generasi sebelumnya.
Dik, percayalah akan kemampuanmu.  Tunjukkanlah usaha maksimalmu.  Buktikanlah gairah cita-citamu.  Jangan pernah mengatasnamakan kebenaran di atas kesalahan.  Terlebih mengatasnamakan kesalahan di atas kebenaran.  Fokuskan pada dua pilihan kalian, hidup mulia atau mati syahid! Just it!  Katakan bahwa kecurangan adalah kedustaan besar, berdusta adalah pembohongan publik, dan pembohongan adalah dzolim.  Jangan sampai terbuai dengan rayuan ‘citra’ atau ‘nama baik’. Aku mohon.  Apakah kau ingin dipermalukan oleh kepalsuan yang kau buat sendiri?  Di kuliah akan semakin nyata dan terasa, Dik, karena pergaulanmu semakin luas, temanmu banyak, pengalamannya inspiratif, dan tujuan hidup mereka telah terdokumentasi rapi satu persatu tanpa parasit kepada diri sendiri ataupun orang lain.
Dik, sadarlah.  Di tanganmu ada segenggam harapan.  Ada harapan sopir dan kondektur yang hanya mendapat Rp2.500,00 setiap penumpang dengan lama perjalanan satu jam.  Ada harapan pemungut sampah yang begitu senang saat ada acara karena dipastika mendapat banyak barang bekas yang tersisa.  Juga ada semangat harapan adik-adik kita yang harus berangkat jam 5 pagi untuk menjual koran dan pulang bisa mencapai pukul 10 malam.  Kebanyakan kita tahu, tapi belum menyadari betapa akan berpengaruhnya tindakan kita saat ini untuk perbaikan bangsa ke depan.
Percayalah, Dik.  Sudah saatnya bangsa ini berubah.  Aku memang terlalu terlalu terlambat untuk menyadari kekhilafan yang benar-benar disadari.  Tapi aku tidak akan pernah terlambat untuk mendorong kalian menjadi pribadi yang mumpuni.  Aku ingin engkau tidak mengalami penyesalan yang terlambat seperti yang aku alami.  Jangan pernah takut untuk mengatakan kebenaran.  Dan kini saatnya kita wujudkan visi utama kita sebagai insan-Nya, sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki ilmu pengetahuan dan mengamalkannya untuk kesejahteraan umat.  Mari mulai dengan niat yang lurus, hati yang tulus, dan pribadi yang jujur.
Terima kasih telah bersedia membaca.  Semoga engkau paham. Semoga engkau lebih terbuka dan tergerak untuk kebenaran.  Salam reformasi untuk civitas akademika yang masih ‘miring’ dan salam perjuangan untuk civitas akademika yang sudah mengibarkan kemuliaan.

S. A. Deliabilda
Kesmas S1 Reg FKM UI 2010



Energi Alternatif yang Diimbangi
Out of the Box Thinking dan Pembangunan Berkelanjutan
Dilihat dari Segi Wilayah Indonesia
oleh Siti Awaliyati Deliabilda
Keberadaan jumlah energi di dunia semakin berkurang karena sumber energi yang digunakan masih mengandalkan pada energi fosil.  Termasuk di Indonesia.  Padahal Indonesia merupakan salah satu negara terbesar yang memberikan pasokan energi di dunia. 
Peranan energi sangat besar bagi pembangunan karena memudahkan manusia  dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.  Sayangnya, semakin kita dimudahkan, semakin tinggi konsumsi terhadap energi.  Berdasarkan pemaparan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi dalam diskusi di Pusat Penelitian Ekonomi-LIPI pada tahun 2004, dinyatakan bahwa pada tahun 1970, konsumsi energi primer hanya sebesar 50 juta SBM (Setara Barel Minyak). Tiga puluh satu tahun kemudian, tepatnya tahun 2001 konsumsi energi primer telah menjadi 715 juta SBM atau mengalami pertumbuhan yang luar biasa yaitu sebesar 1330% atau pertumbuhan rata-rata periode 1970-2001 sebesar 42.9%/tahun.   Sumber energi yang masih menjadi ‘primadona’ saat ini adalah bahan bakar minyak.  Padahal sejak tahun 1992 kita sudah mengimpor dari luar negeri demi terpenuhinya konsumsi energi.
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan, dunia mulai mengembangan pemanfaatan sumber energi selain bahan bakar minyak.  Di Indonesia sendiri sangat banyak sumber energi yang masih dapat dimaksimalkan pemanfaatannya. Tenaga air, panas bumi, biomasa dan sampah/limbah, bahan bakar nabati, tenaga surya, energi laut, tenaga angin, nuklir, dan hidrogen-fuel cell adalah beberapa di antaranya. Dalam pengembangannya, ada baiknya divariasikan berdasarkan kondisi suatu wilayah mengingat Indonesia terdiri dari beribu pulau dengan potensi alam yang berbeda. Selain kondisi wilayah, perlu juga diperhatikan tingkat konsumsi, kawasan industri, komunitas khusus yang mengkonsumsi BBM dalam skala besar seperti nelayan, biaya distribusi, serta potensi produksi BBM dalam negeri, sehingga  potensi pengembangan energi terbarukan bisa lebih maksimal.
Berdasarkan potensi di wilayahnya, sumber energi alternatif yang dapat dikembangkan di Indonesia dibagi menjadi dua kategori, yaitu berpotensi di semua wilayah dan yang berpotensi di wilayah-wilayah tertentu. Sumber yang dapat dikembangkan di semua wilayah di Indonesia adalah tenaga air, biomassa dan sampah/limbah, bahan bakar nabati, dan tenaga surya.  Sedangkan sumber energi lain lebih berpotensi untuk dikembangkan di wilayah tertentu.
Tenaga air merupakan salah satu pemanfaatan sumber energi yang sudah mulai dikembangkan di Indonesia melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).  Keunggulan dari energi ini adalah memberikan respon yang cepat sehingga memudahkan saat berada dalam kondisi beban puncak maupun terjadi gangguan jaringan.  Selain itu, kapasitas daya keluarannya lebih besar dibanding energi terbarukan lain.  Jumlah daya listrik yang dapat dibangkitkan pada suatu pusat pembangkit listrik tenaga air tergantung pada ketinggian saat air jatuh dan kecepatan aliran airnya. 
Banyaknya jenis tanaman adalah anugerah yang dimiliki Indonesia.  Sebagai negara kedua di dunia yang memiliki banyak jenis tanaman, Indonesia sangat berpotensi untuk mengelola dan mengolah bahan baku minyak nabati.  Ubi kayu, tebu, jarak pagar, kelapa sawit, dan kelapa adalah sebagian kecil jenis tumbuhan penghasil energi yang dapat tumbuh dengan baik di Tanah Air.  Meski kini sudah banyak lahan yang telah menjadi bangunan, masih cukup waktu untuk memperbaiki hutan dan perkebunan serta menahan manusia yang kerapkali mengorbankan flora demi finansial semata.
Selain nabati, banyak bahan biologis yang terdapat di alam ini yang bisa dimanfaatkan secara praktis untuk bahan bakar atau bisa juga diolah terlebih dulu untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal.  Biomassa juga memiliki keunggulan, di antaranya mengurangi adanya gas rumah kaca, mengurangi limbah organik, melindungi kebersihan air dan tanah, mengurangi polusi udara, serta mengurangi hujan asam dan kabut asap.
Suatu ketika, Presiden RI, Susilo Bambang Yodhoyono berkata, selama matahari masih ada, selama itu pula kita akan merasakan panasnya, dan panas itu adalah suatu sumber energi.  Keberadaan matahari menjadi bagian penting di kehidupan karena Sinar matahari, atau tenaga surya dapat digunakan untuk memanasi, memberikan penerangan, atau mendinginkan rumah atau bangunan lain, menghasilkan listrik, memanaskan air dan bermacam proses industri.  Dengan memaksimalkan energi yang dipancarkan matahari, penggunaan sumber energi dapat lebih ditekan.
Sumber energi lain yang akan lebih maksimal penggunaannya antara lain tenaga angin.  Dengan lautan dan garis pantai terpanjang di dunia, yaitu ± 80.791,42 km, menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki potensial untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga angin.  Pemanfaatan tenaga angin ini juga dapat dioptimalkan untuk turbin angin yang sangat mendukung dalam kegiatan pertanian dan perikanan, seperti untuk keperluan irigasi, aerasi tambak ikan, dan sebagainya.  Angin, yang sebagian besar orang baru menikmati sepoinya saja, jika dikelola serta didistribusikan dengan baik, maka akan memberi kebermanfaatan lebih bagi kelangsungan hidup manusia.
Energi dari gelombang lautan dan ombak serta tenaga panas lautan juga dapat digunakan untuk membangkitkan energi listrik.  Hal ini merupakan suatu peluang untuk memanfaatan energi alam terutama bagi masyarakat yang mengadu nasib di derasnya ombak. 
Sumber energi lainnya, yaitu panas bumi.  Panas bumi merupakan sumber energi bersih lingkungan karena tidak memproduksi emisi CO.  Selain itu, energi yang dihasilkan bisa berkapasitas besar.  Terlebih posisi Indonesia yang berada di Pasifik ring of fire membuat Indonesia memiliki potensi sumber energi panas bumi yang mencapai 28.000 MW.  Potensinya tersebar di 265 lapangan di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali, NTT, Maluku, dan sebagian Kalimantan.
Dalam pemanfaatan panas bumi ini tidak memerlukan kilang, pengangkutan, bongkar muat, dan bersifat lokalSumber energi panas bumi juga tidak dapat diekspor sehingga hanya bisa dimanfaatkan untuk keperluan domestik atau lokal.  Hal ini dapat menjadi peluang dalam pengembangan sumber energi panas bumi agar kita mengurangi ketergantungan penggunaan minyak dan gas bumi serta membangun kemandirian energi lokal untuk membangun ketahanan energi nasional. 
Sebenarnya ke semua sumber energi tersebut telah mulai dilakukan uji coba, bahkan di beberapa daerah telah menjadi energi alternatif yang memudahkan manusia dalam beraktivitas tanpa menyedot energi fosil.  Masalah energi bukan hanya tanggung jawab pemerintah.  Perlu ada sinergisitas antarpihak dalam menyelesaikannya, yaitu pemerintah, peneliti, hingga masyarakat.  Setiap komponen harus menjalankan peran masing-masing tanpa mengabaikan koordinasi.
Pemerintah berperan dalam membuat kebijakan dan menerapkan sistem manajemen energi secara konsisten dan berkelanjutan melalui.  Sistem manajemen yang baik adalah sistem yang alur informasinya benar dan tepat sasaran.  Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain:
1.                  Pembentukan tim manajemen sumber energi di semua wilayah
2.                  Penyusunan pola pemantauan secara terencana dan sistematis
3.                  Revisi master plan yang berbasis kawasan hemat energi
4.                  Penerapan teknologi penghematan energi
5.                  Penggunaan teknologi penghematan energi secara maksimal
6.                  Evaluasi penggunaan energi
Dalam menjalankan keenam poin tersebut, peneliti memiliki peran yang cukup strategis karena berkecimpung langsung dalam melakukan pencarian sumber energi dan menentukan teknologi apa yang sesuai dengan kondisi wilayah serta masyarakat.  Selain itu, perlu diperhatikan juga dampak yang akan ditimbulkan dengan adanya pengelolaan sumber energi terbarukan tersebut, baik dari segi lingkungan, kesehatan, sosial, maupun ekonomi. 
Bukan waktu yang sebentar untuk mengelola sumber energi menjadi energi yang dapat dimaksimalkan pemanfaatannya.  Bukan hal yang murah juga untuk membangun suatu peradaban yang lebih baik.  Oleh karena itu, selama tahap pencarian penggunaan energi yang tepat guna, perlu dibangun kesadaran tinggi di masyarakat sebagai pengguna energi.  Pembatasan penggunaan energi merupakan salah satu tindakan positif agar kesadaran akan pentingnya energi tumbuh di semua lapisan.  Pembatasan energi ini tidak hanya dilakukan di pengguna rumah tangga, tetapi di sektor industri dan trasnportasi.  Kedua sektor ini memang memakan energi terbesar dalam kurun waktu terakhir ini.
Out of the box thinking.  Itu yang harus kita terapkan dalam menuntaskan permasalahan krisis energi ini.  Berpikir lebih luas dan terbuka serta cermat terhadap sesuatu yang sesungguhnya bertuah untuk kehidupan masa depan.  Biarkan kini bahan bakar fosil menjadi cadangan energi karena saatnya kita bereformasi, memanfaatkan ‘gerbang lain’ untuk kesinambungan antargenerasi.  Ada suatu hal yang sangat penting, do action.  Tanpa hal tersebut mustahil apa yang dicitakan akan terwujud.  Saya menekankan pada hal ini karena masih sedikit orang yang mampu mengeluarkan gagasan dengan diimbangi oleh action yang sesuai.
Mengapa harus mereformasi penggunaan energi sedari dini?  Sebuah pertanyaan klasik sebenarnya.
Memang, untuk penggunaan 20-30 tahun ke depan pemenuhan kebutuhan energi masih dapat digunakan.  Tapi bukan saatnya kita egois memikirkan nasib sendiri sedang generasi berikutnya harus terlantar dengan kondisi energi yang sangat minim.  Oleh karena itu, sangat penting penerapa  pembangunan berkelanjutan demi memaksimalkan kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.  Pembangunan berkelanjutan dapat membantu untuk mengurangi kemiskinan dan mengeliminasi kerusakan sumber daya alam dan lingkungan.
Kepedulian pemerintah dalam menemukan titik terang memerangi krisis energi saat ini dirasa sudah muncul.  Terbukti dengan dikeluarkannya beberapa kebijakan yang memang bertujuan untuk memaksimalkan energi lama dan melakukan pencarian energi baru yang lebih banyak keunggulannya.  Sayangnya, masih perlu peningkatan peran dan konsentrasi pemerintah dalam mewujudkan dunia yang lebih aman dan tenteram lagi.  Pemerintah daerah, terutama, harus mengetahui secara mendalam tentang kondisi wilayah serta bidang social, ekonomi, dan budaya yang dipimpinnya.  Hal ini akan dapat memudahkan dalam pembuatan kebijakan demi perbaikan yang maksimal. 
Mahasiswa, sebagai ‘wilayah menengah’ yang mampu menyentuh ‘kawasan’ pemerintah serta penyambung lidah dari golongan grass root dengan pihak pemerintah, harus mampu memberikan pencerahan kepada pihak pemerintah dalam meluncurkan kebijakan agar tidak salah kaprah dan bermanfaat pada pihak mayoritas.  Selain memberikan pencerahan dan saran dalam menentukan kebijakan, mahasiswa mampu memberikan solusi atas masalah yang terjadi.  Mempelajari kehidupan nyata adalah salah satu pelajaran wajib dalam memahami perjalanan hidup di universitas kehidupan.
Maju bersatu untuk Indonesia yang Maju dan Berkontribusi Penuh!